(Literasi Kelas X-XII) Mengapa Bintang Berkedip pada malam hari?

(Literasi Kelas X-XII) Mengapa Bintang Berkedip pada malam hari?

KOMPAS.com - Saat kita memandang ke langit pada malam hari, akan melihat benda langit yang tampak bercahaya dan berkelap-kelip. Tahukah kamu benda langit yang berkelap-kelip itu adalah bintang? Dilansir Live Science, bintang-bintang akan berkelap-kelip karena cahayanya harus melewati kantong atmosfer bumi. Kantong atmosfer itu bervariasi dalam suhu dan kepadatan, dan semuanya bergejolak. Pada malam hari, sebuah bintang tampak bergeser posisi secara konstan ketika cahaya dibiaskan ke sana-sini.

Para astronom mencoba untuk mengatasi kelap-kelip dengan menggunakan optik adaptif. Di mana banyak cermin kecil pada ruang lingkup dan terus menerus menyesuaikan untuk memungkinkan gangguan atmosfer. Mereka juga dapat menggunakan teleskop berbasis ruang untuk melakukan pengamatan. Teleskop yang mengorbit Bumi di atas atmosfer menghindari masalah yang disebabkan oleh turbulensi. Planet tak berkelap-kelip Di sisi lain, planet tidak tampak berkelap-kelip. Karena jarak planet lebih dekat ke Bumi dari pada bintang-bintang yang kita lihat. Planet-planet akan tampak sedikit lebih besar dalam bidang penglihatan kita. Karena planet-planet tampak lebih besar, maka cahaya yang memantul darinya kurang tergeser oleh kantong udara di atmosfer atas yang bergolak. Tapi itu aturannya tidak keras. Planet-planet bisa tampak berkelap-kelip ketika atmosfer sangat bergejolak.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), bintang kelap-kelip terlihat ke mata tanpa bantuan adalah hasil turbulensi yang umum dan diketahui di atmosfer. Jika penglihatan yang buruk lewat teleskop merupakan hasil dari turbulensi di atmosfer rendah. Turbulensi baik di atmosfer atas atau bawah menghasilkan daerah yang tidak stabil dengan berbagai kepadatan. Itu mengurangi kemampuan atmosfer untuk memungkinkan seberkas cahaya dengan intensitas yang tidak berubah. Ketika cahaya dari benda langit digerakan dengan cepat dan acak oleh atmosfer, maka gambar yang dibentuk oleh teleskop kecil. Dari miliaran bintang yang menyusun alam semesta yang dapat diamati, hanya sebagian kecil yang terlihat oleh mata telanjang. Banyak bintang terjadi berpasangan, banyak sistem, atau gugusan bintang.

Bintang juga bervariasi dalam jumlah cahaya yang dipancarkan. Bintang seperti Altair, Alpha Centauri A dan B, dan Procyon A disebut bintang kerdil. Dimensi mereka kira-kira sebanding dengan matahari. Sirius A dan Vega meskipun jauh lebih terang juga merupakan bintang katai. Suhu yang lebih tinggi menghasilkan tingkat emisi yang lebih besar. Aldebaran A, Arcturus dan Capella A adalah contoh dari bintang-bintang raksasa. Itu dimensinya jauh lebih besar daripada matahari. Diberitakan Kompas.com (3/4/2018), beberapa waktu lalu Badan antariksa milik Amerika Serikat (NASA) untuk pertama kalinya membidik bintang raksasa biru yang jaraknya 9 miliar tahun cahaya dari Bumi. Nama bintang itu adalah MACS J1149+2223 Lensed Star 1 (LSI) atau dijuluki Icarus. Icarus berhasil ditangkap setelah para astronom menggabungkan kekuatan teleskop Hubble dengan efek alami yang membuat obyek yang letaknya sangat jauh tampak lebih terang dari biasanya.

Para astronom menyebut teknologi ini dengan istilah lensa gravitasi. Lensa gravitasi adalah obyek besar yang ada di ruang angkasa. Lensa ini mampu memperbesar bintang dan galaksi yang letaknya tidak dapat dijangkau tata surya. Bintang Icarus letaknya sangat jauh dari tata surya kita. Dampaknya, para astronom tidak benar-benar melihat cincin Einstein.

Sumber: Kompas.com/ Ari Welianto | Editor: Ari Welianto

Gambar : IDN Times