(literasi kelas X-XII) Perbedaan Airbus, Boeing, ATR, Bombardier

(literasi kelas X-XII) Perbedaan Airbus, Boeing, ATR, Bombardier

Di Indonesia, peremajaan pesawat bagi maskapai seperti Lion Air dan Garuda Indonesia menjadi hal yang rutin dilakukan. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerusakan ya ga dapat memunculkan biaya tinggi serta demi alasan efisiensi bahan bakar. Semakin berkembangnya zaman, teknologi di dunia penerbangan sekarang sudah mulai canggih. Sudah banyak pesawat komersial yang bermunculan di pasaran dengan keunggulan teknologinya masing-masing, seperti Foker dengan pesawat F-28 dan F-100 dan Bombardier dari Canada dengan tipe CRJ100, CRJ440, CRJ500. Hanya dari sekian banyak pesawat komersial, yang terkenal di Indonesia adalah Airbus dan Boeing.

Berikut perbedaan dari masing-masing tipe pesawat:

AirBus

Airbus merupakan pesawat komersial yang masuk kategori Medium Range Aircraft yang dapat menempuh jarak antara 4.000 hingga 10.400 km. Berbasis di Perancis, jenis pesawat AirBus memiliki beberapa tipe, yaitu A318, A319, A320, A321, dan A330. Di Indonesia, maskapai penerbangan yang menggunakan tipe AirBus ini adalah Citilink (Airbus A320-200), Air Asia (Airbus A320-200 dan Airbus A320Neo), dan Garuda Indonesia (Airbus A330-200 dan Airbus A330-300) yang memiliki karakteristik badan pesawat yang sempit (narrow body) dan memiliki kapasitas 150 hingga 180 kursi pesawat.

Airbus A320 mampu menempuh jarak hingga 5.920 km dengan menghabiskan bahan bakar 24.210 liter yang lebih efisien dari Boeing 737. Airbus A330 merupakan sebuah pesawat terbang jet sipil komersial bermain ganda jarak menengah hingga jarak jauh berkapasitas besar dan berbadan lebar. Diperkirakan pesawat ini akan digantikan oleh seri terbaru Airbus A350. Pesawat Airbus A300 salah satu dari seri Airbus yang sangat sukses di pasaran.

Boeing

Boeing  adalah  jenis  pesawat   yang  paling  dikenal  di  seluruh  dunia  yang  telah memproduksi lebih dari 6.000 unit pesawat. Bermarkas di Chicago, AS, perusahaan pembuat

pesawat terbang ini didirikan oleh William Edward Boeing seorang pebisnis dan penebangan kayu yang sukses. Boeing memiliki dua divisi, yaitu Boeing Integrated Defense System (IDS) yang bertanggung jawab untuk produk militer dan angkasa, dan Boeing Commercial Airlines (BCA) untuk pesawat sipil.

Produk Boeing yang paling laku adalah tipe Boeing 737 yang pertama kali dibuat tahun

1967. Dengan penjualan sebanyak 7000 buah, Boeing berfungsi untuk melakukan penerbangan jarak dekat dan sederhana. Saingan terbesar Boeing 737 yang banyak digunakan untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia adalah Airbus A320 yang juga dilengkapi teknologi tinggi sejak tahun kemunculannya di tahun 1990. Boeing menciptakan seri 737-900 yang mampu terbang lebih jauh dan menampung penumpang lebih banyak dari tipe 707 untuk melengkapi kebutuhan komersial dan tren peningkatan penggunaan pesawat terbang sebagai alternatif transportasi.

Di  Indonesia,  Boeing  737  merupakan  standar  armada  bagi  maskapai  di  Indonesia. Hampir semua maskapai penerbangan Indonesia menggunakan Boeing 737 dalam operasional penerbangan. Perbedaan antara Airbus dan Boeing yaitu Airbus dibentuk oleh konsorsium Eropa, sementara Boeing dimiliki oleh AS. Kedua perusahaan swasta penghasil pesawat komersial ini sejak dekade tahun 1990an telah mengadakan diawali dalam pasar global untuk pesawat jet komersial berukuran besar, mulai dari pesawat berbadan sempit, lebar, hingga jet berukuran jumbo. Garuda Indonesia juga akan mengoperasikan Boeing 777, sebuah pesawat penumpang sipil berbadan lebar untuk perjalanan jarak jauh dengan kapasitas 305 hingga 550 penumpang dengan jangkauan 5.600 hingga 16.400 km. Selain itu, Boeing 777 untuk menggantikan Boeing 747 dan tentunya lebih efisien. Di kelas Long Range Aircraft yang mampu terbang minimal 10.400 km non stop, pesawat Boeing dan Airbus bersaing sangat ketat.

ATR

ATR yang berbasis di Perancis adalah salah satu perusahaan yang berfokus pada pengembangan bisnis pesawat komersial dengan tipe ATR42 dan ATR72 sejak tahun 1981. Perbedaan antara keduanya terletak dari jumlah kursi yang ada di masing-masing tipe pesawat. ATR42 berasal dari jumlah kapasitas kursi yang berjumlah 40 hingga 50.

Pesawat ini kemudian dikembangkan menjadi ATR72, sebuah pesawat penumpang regional jarak pendek berkesan twin Turki dengan kapasitas kursi hingga 78 penumpang yang dikendalikan oleh dua kru penerbangan. Pesawat ATR72-600 telah digunakan oleh maskapai

Garuda  Indonesia  dalam  operasionalnya sehari-hari,  terutama untuk  rute-rute di  Kalimantan (Balikpapan, Palangkaraya, Pontianak, dan Putusibau) sehingga transportasi di Kalimantan lebih cepat dan efisien seiring meningkatnya perdagangan dan perekonomian antar kata-kata tersebut.

Ramainya peminat yang menggunakan transportasi di rute-rute di area yang masih sulit transportasi membuat Garuda Indonesia mengembangkan penggunaan ATR72-600 hingga ke daerah-daerah Timur Indonesia, seperti Bali, Bima, Mataram, dan Labuan Bajo. Pejabat tinggi Garuda  Indonesia  menyatakan  bahwa  pesawat  inilah  yang  paling  canggih  dan  nyaman  di kelasnya untuk melayani rute penerbangan jarak pendek di berbagai pulau dan kota.

Desain

Penumpang memasuki pesawat menggunakan pintu belakang (yang sangat jarang digunakan dalam pesawat penumpang) sedangkan pintu depan digunakan untuk memasukkan kargo. Finnair memesan ATR 72 mereka dengan pintu penumpang depan sehingga mereka dapat menggunakan garbarata jet di Bandar Udara Helsinki-Vantaa.

Ganjalan ekor harus dipasang ketika penumpang keluar atau memasuki pesawat dalam kasus jika hidung pesawat terangkat, yang sering terjadi jika kargo dan penumpang keluar dan masuk dengan prosedur yang salah.

Pesawat ATR tidak memiliki Auxiliary Power Unit (APU) seperti umumnya pesawat lain, APU hanya merupakan opsi tambahan dan akan diletakkan di bagian kargo C4. Sebagian besar pesawat dilengkapi dengan rem baling-baling (biasanya disebut sebagai "Hotel Mode") yang menghentikan baling-baling pada mesin #2 (kanan), memungkinkan mesin untuk menyala dan menyediakan udara dan tenaga untuk pesawat tanpa memutar baling-baling. Rem baling- baling tersebut merupakan penggunaan yang tidak penting, dan banyak maskapai melepas rem tersebut, dan akhirnya perusahaan menghilangkannya dari pesawat sepenuhnya. Hal ini menghilangkan  kebutuhan  berat  tambahan  dan  pengeluaran  untuk  perawatan  APU  dan  rem baling-baling.

Keunggulan lain dari pesawat komersial ATR72-600 adalah:

a) bisa menjangkau bandara kecil dengan landasan pacu kurang dari 1600 meter dan jarak tempuh kurang dari 900 NM,

b) walaupun berkapasitas 70 penumpang dengan jarak kursi hanya 30 inci, interior kabin tetap terasa aman dan nyaman bagi penumpang karena di desain khusus oleh ahli modifikasi interior mobil sport, Giorgetto Giugaro dari Italia,

c) ATR72-600 juga diklaim hemat bahan bakar sekitar 50 persen ketimbang pesawat lain yang sejenis dan memiliki jarak tempuh yang sama, sehingga biaya operasionalnya lebih rendah,

d) kantor pelayanan ATR di Singapura akan menjamin ketersediaan suku cadang utama, seperti baling-baling dan nosel bahan bakar.

Varian

ATR 72-100

ATR 72-101

ATR 72-102

ATR 72-200

ATR 72-201

ATR 72-202

ATR 72-210

ATR 72-211

ATR 72-212

ATR 72-500

ATR 72-212A

ATR 72-600

Pada  hari  kamis  2  Oktober  2007,  CEO  ATR  Stéphane  Mayer,  mengumumkan  seri pesawat terbaru -600 pada konferensi pers yang diadakan di Washington, D.C..  ATR 42-600 dan ATR 72-600 baru akan dilengkapi dengan teknologi terbaru yang dibangun dengan pengalaman berharga yang didapat dari pesawat sebelumnya, dengan memiliki efisiensi yang lebih tinggi,

kehandalan yang baik, konsumsi bahan bakar dan biaya operasi rendah. Pesawat ini akan dilengkapi dengan mesin standard PW127M (mesin baru menyediakan peningkatan 5% tenaga termodinamikasaat lepas landas, performa yang lebih baik pada landasan pendek, dalam kondisi cuaca panas dan ketinggian. Dilengkapi dengan “fungsi boost” yang digunakan untuk menambah tenaga, hanya digunakan saat lepas landas.), Dek penerbangan dengan kokpit digital dilengkapi dengan lima layar LCD yang akan menggantikan EFIS (Electronic Flight Instrument System) yang dipakai saat ini. Sebagai tambahan, sebuah Multi-Purpose Computer (MPC) akan meningkatkan kemanana penerbangan dan kemampuan operasional. Sistem avionik baru, yang disediakan oleh Thales, akan memyediakan kapabilitas CAT III dan RNP.

Bombardier

Pesawat komersial dengan tipe Bombardier ini diciptakan oleh Bombardier Aerospace yang merupakan bagian dari Bombardier Inc, sebuah perusahaan pesawat terbesar keempat di dunia dalam hal pengiriman tahunan pesawat komersial secara keseluruhan, dan terbesar ketiga dalam hal pengiriman tahunan pesawat terbang secara keseluruhan. Bermarkas di Montreal, Quebec, Canada, Bombardier bekerjasama dengan perusahaan Aerospace ExelTech untuk pemeliharaan, masalah perbaikan, dan overhaul (MRO).

Bombardier melengkapi produksi pesawat terbang mereka mulai dari pesawat jet bisnis, jet komersial, hingga turboprop. Di Indonesia sendiri, walaupun rata-rata menggunakan Boeing dan  Airbus  untuk  mengangkut  banyak  penumpang  sekaligus,  namun  untuk  penerbangan  di Timur Indonesia umumnya menggunakan pesawat yang lebih kecil.

Garuda   Indonesia   memilih   Bombardier   CRJ700   untuk   rute-rute   penerbangan   ke Indonesia bagian timur yang masih memiliki akses transportasi yang minim. Semua pesawat CRJ700 dibuat di Bandar Udara Internasional Montreal Mirabel di Kanada yang merupakan perpanjangan dari jumlah kursi pesawat yang terdiri dari 66 hingga 78 kursi. Dilengkapi dengan sayap baru, CJR700 dilengkapi dengan sudut flat yang tinggi dan perpanjangan serta sedikit pelebaran lambung dengan lantai yang lebih rendah.

Nah, sudah tahu kan model-model pesawat terbang yang digunakan di Indonesia? Jangan khawatir soal keamanannya, didukung dengan pilot yang berpengalaman serta teknisi yang selalu  sigap  mengecek  mesin  agar siap  terbang tanpa masalah,  akan  membawa Anda terbang menikmati birunya langit dengan perasaan aman dan nyaman.