(LITERASI KELAS X) Menilik Masalembo dan Segitiga Bermuda di Mata Sains

(LITERASI KELAS X) Menilik Masalembo dan Segitiga Bermuda di Mata Sains

Pada 27 Januari 1981, tepat 37 tahun lalu, KMP Tampomas 2 terbakar dan tenggelam di sekitar perairan kepulauan Masalembo. Itu bukan satu-satunya peristiwa kapal terbakar dan tenggelam di sana. Bahkan, pada 1 Januari 2007, pesawat Adam Air juga hilang di dasar perairan.

Jadi,  atas  dasar  kemiripan  dengan  Segitiga  Bermuda  tidak  heran  jika  perairan  Masalembo dijuluki sebagai Segitiga Bermuda-nya Indonesia.

Namun, apa penjelasan sains atas kedua misteri tersebut?

Misteri Segitiga Bermuda sudah hadir sejak era Christopher Columbus. Pada tahun 1492, dia mencatat mengenai anomali yang aneh pada kompasnya ketika melewati daerah tersebut. Sejak masa silam juga diprediksi sudah ada ribuan kapal yang karam di perairan Segitiga Bermuda. Salah satu yang populer adalah hilangnya lima pesawat yang dikenal dengan nama Flight 19 pada 5 Desember 1945. Lalu, pesawat yang dikirimkan untuk mencari pesawat Flight 19 juga turut raib bersama 13 kru secara misterius.

Konpirasi dan mitos pun menyeruak. Dari argumen mengenai alien hingga tentang kerajaan iblis. Nama Segitiga Bermuda sendiri pertama kali muncul pada artikel tentang peristiwa misterius di perairan itu dalam majalah Argosy pada tahun 1964 yang ditulis oleh Vincent Gaddis.

Ada beberapa penjelasan yang coba menguak misteri ini.

1. Human Error

Satu, penjelasan paling sederhana adalah kesalahan manusia sendiri, bukan sebuah anomali. "Kawasan itu ramai dilalui dan sudah menjadi simpang yang ramai sejak bangsa Eropa mulai bereksplorasi," kata ahli sejarah US Naval Historical Foundation, John Reilly, kepada National Geographic.

Hal  senada  diungkapkan  oleh  ilmuwan  Australia  bernama  Dr  Karl  Kruszelnicki.  "Jumlah pesawat yang hilang di Segitiga Bermuda sama dengan di manapun di dunia secara persentase," katanya.

Bahkan, penjelasan mengenai hilangnya Flight 19 pun juga lebih sederhana dari perkiraan. Flight

19 hilang karena kesalahan navigasi sehingga pesawat kehabisan bahan bakar dan akhirnya jatuh

ke laut. Sementara pesawat PBM-Mariner yang bertugas mencari Flight 19 diperkirakan meledak di udara karena dianggap sebagai 'tanki pembawa gas berjalan'.

2. Cuaca Ekstrem dan 'Awan Pembunuh'

Kemunculan 'awan pembunuh' di atas perairan tersebut pada tahun 2016 juga dianggap sebagai biang keladi hilangnya banyak kapal dan pesawat di sana.

Fenomena 'awan pembunuh' ini dapat menjadi bom udara karena membawa angin berkecepatan

273,6 km/jam. Kecepatan sebesar itu setara dengan badai Katrina. Awan-awan yang berbentuk heksagonal ini dapat berkumpul dan membentang sepanjang 32 hingga 89 km.

Belum lagi, cuaca ekstrem yang mungkin terjadi di lautan bisa muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Meski, pesawat zaman sekarang kerap dibantu dengan prediksi cuaca yang akurat, namun badai dan petir yang besar dan datang mendadak bisa saja menciptakan kecelakaan.

"Laut selalu menjadi tempat misterius bagi manusia. Jika cuaca dan navigasi tidak mendukung maka akan menjadi tempat yang paling berbahaya," tulis NOAA.

3. Gas Metana di Dasar Laut

Penemuan kawah di lepas pantai Norwegia dengan lebar 0,8km dan dalam 45m oleh peneliti dari Arctic University of Norway menjadi dasar utamanya. Kawah ini diduga muncul karena ledakan gas metana yang menyembur ke permukaan dengan hebat.

Gas ini dipercaya juga menciptakan 'burps of death' atau sendawa kematian yang menyebabkan air laut berubah menjadi busa dan menarik kapal ke dasar laut. Metana yang lepas ke angkasa juga mampu menciptakan turbelensi udara pada pesawat.

Meski begitu, geofisikawan dari U.S. Geological Survey (USGS), Carolyn Ruppel, mengatakan bahwa itu adalah hal yang mustahil. "Kebanyakan metana yang ada di dalam laut saat ini telah diproses oleh mikroba menjadi karbon dioksida. Tidak mungkin gas  metana keluar utuh ke permukaan laut karena telah lebih dulu berubah menjadi karbon dioksida," kata Ruppel.

Kembali ke Masalembo. Teori tentang gas metana atau 'awan pembunuh' yang mungkin terjadi di Segitiga Bermuda tidak mungkin terjadi di perairan Masalembo yang memang tidak memiliki kawah metana. Cuaca buruk mungkin saja terjadi, namun tidak seekstrem Segitiga Bermuda.

Meski beberapa ahli mengatakan bahwa Masalembo kemungkinan memiliki titik kantung udara atau 'air pocket', tapi hampir mustahil menjadi penyebab kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di Perairan Masalembo.

Jawaban paling logis dan sederhana dari semua itu adalah cuaca buruk, masalah teknis pada kapal atau pesawat, dan/atau human error alias kesalahan manusia sendiri. Tidak ada hal mistis, seperti yang selama ini dipercaya masyarakat.

Dan  pada  akhirnya,  belum  ada  jawaban  pasti  dari  sains  tentang  Masalembo  dan  Segitiga Bermuda, selain hanya kemungkinan-kemungkinan yang mungkin benar. Atau setidaknya, mendekati kebenaran.